Jaadugar: A Witch in Mongolia — Anime Sejarah yang Menguliti Politik Istana Mongol, Ilmu Pengetahuan, dan Perempuan di Pusat Kekuasaan
Di tengah tren anime fantasi dan isekai, Jaadugar: A Witch in Mongolia muncul sebagai proyek yang terasa “berbeda kelas”: drama sejarah berlatar abad ke-13, mengambil panggung raksasa Kekaisaran Mongol, dan memusatkan konflik pada intrik istana, pertarungan ide, serta strategi bertahan hidup—bukan sekadar perang dan pedang.
Yang membuatnya makin ramai dibahas: proyek ini ditangani oleh Naoko Yamada sebagai chief director, dan diproduksi oleh Science SARU, studio yang terkenal berani soal gaya visual dan ritme cerita.
Artikel ini merangkum:
- apa saja yang sudah resmi dikonfirmasi
- premis cerita & tokoh utama (Fatima/Sitara dan Töregene)
- kenapa setting Mongol abad ke-13 menarik dan jarang dipakai anime
- tema besar: politik, identitas, pengetahuan, dan peran perempuan
- apa yang perlu kamu pantau menjelang rilis (biar update kamu rapi)
Ringkasan Cepat
- Judul: Jaadugar: A Witch in Mongolia
- Studio: Science SARU
- Jadwal tayang: Juli 2026 (jadwal rilis yang diumumkan)
- Staff utama (yang sudah diumumkan):
- Chief Director: Naoko Yamada
- Director: Abel Góngora
- Series Composition: Kanichi Katou
- Character Design & Sakuga Chief: Kenichi Yoshida
- Music: Kōshirō Hino
- Sumber adaptasi: manga Tenmaku no Jādūgaru karya Tomato Soup, terbit di bawah penerbit Akita Shoten
> Catatan: detail karakter/istilah bisa berbeda antar sumber (mis. penyebutan nama “Fatima” vs “Sitara”). Artikel ini pakai penyebutan yang paling umum di ringkasan resmi dan liputan media—tanpa menambah spekulasi.
Trailer Official
Kenapa Ini Anime “Sejarah” yang Berasa Ambisius?
Anime sejarah yang benar-benar menempatkan konteks politik sebagai mesin utama cerita itu relatif jarang, apalagi yang mengambil latar Kekaisaran Mongol abad ke-13—periode ketika Mongolia menjadi salah satu kekuatan geopolitik terbesar di dunia.
Yang membuat pendekatannya menarik:
- Istana & relasi kekuasaan jadi arena konflik (bukan hanya battlefield)
- pengetahuan (sains/medis/astronomi) dipakai sebagai “senjata”
- konflik sering hadir dari negosiasi, manipulasi, perlindungan, dan pilihan moral
- fokus pada tokoh perempuan yang bergerak di ruang yang biasanya distereotipkan pasif
Di sinilah “ambisius”-nya terasa: sejarah bukan dekorasi, melainkan panggung yang aktif membentuk karakter.
Premis Cerita: Dari Pasar Budak ke Pusat Kekuasaan
Inti ceritanya berangkat dari seorang gadis dari wilayah Persia/Iran pada abad ke-13—sering disebut Fatima (dan dalam beberapa materi/versi ringkasan juga muncul nama Sitara)—yang mengalami perubahan hidup drastis saat situasi politik dan invasi Mongol menyeretnya ke pusat kekuasaan Mongolia.
Benang merah yang konsisten dari ringkasan-rangkuman resmi:
- ia dibawa ke lingkungan Kekaisaran Mongol
- ia bertahan dan berkembang lewat pengetahuan dan kemampuan membaca situasi
- ia beraliansi/berhubungan erat dengan Töregene, istri (keenam) dari Ögedei Khan
- hubungan ini perlahan memengaruhi dinamika kekuasaan di dalam istana
Kalau kamu suka cerita “naik kelas” yang tidak instan—bukan karena kekuatan fisik, tapi karena kompetensi, taktik, dan ketahanan mental—premisnya sangat menjanjikan.
Fatima (Sitara): Tokoh Utama dengan Latar Ilmu yang Tidak Biasa
Hal yang paling kuat dari protagonisnya adalah: ia tidak digambarkan sebagai figur yang hanya “terseret nasib”.
Ia dibentuk oleh:
- akses pada pendidikan/pengetahuan (dalam konteks era kejayaan ilmu di dunia Islam)
- ketelitian observasi dan cara berpikir analitis
- kemampuan menavigasi lingkungan sosial-politik yang keras
Alih-alih “heroik” dengan cara klise, kebangkitannya cenderung:
- pelan, bertahap
- penuh kompromi dan risiko
- sering menuntut keputusan sulit: menyelamatkan diri vs mempertahankan nilai
Ini yang membuat konflik personalnya terasa dekat: sejarah besar berjalan, tapi manusia di dalamnya tetap punya batas dan luka.
Cuplikan Trailer Anime


Töregene: Perempuan Berpengaruh di Pusat Kekaisaran
Salah satu hook terbesarnya adalah keterkaitan protagonis dengan Töregene Khatun—figur yang dalam sejarah dikenal punya pengaruh besar terhadap roda kekuasaan setelah masa Genghis Khan.
Dalam cerita, Töregene bukan hanya “pelindung”:
- ia adalah pemain politik
- ia memahami struktur kekuasaan dan cara menggerakkannya
- ia punya agenda, ketakutan, dan visi
Dinamika dua perempuan ini berpotensi jadi inti yang paling “berbahaya” dalam cerita: ketika pengetahuan dan pengaruh bertemu, istana bisa berubah dari dalam—tanpa ledakan besar, tanpa pedang terhunus.
Intrik Istana Mongol: Harem, Strategi, dan Dampak ke Dunia Luar
Setting “dalam istana” membuka jenis konflik yang biasanya bikin cerita sejarah terasa tajam:
- siapa memegang akses ke pemimpin, memegang akses ke keputusan
- siapa mengendalikan informasi, mengendalikan arah kebijakan
- siapa memegang simpati, memegang legitimasi
Di situ, keputusan kecil:
- bisa menggeser keseimbangan faksi
- bisa memicu konsekuensi ke wilayah yang jauh
- bisa mengubah nasib orang-orang yang bahkan tidak pernah masuk istana
Inilah daya tarik “politik istana”: intensitasnya tidak selalu berisik, tapi efeknya panjang dan luas.
Sentuhan Naoko Yamada: Emosi, Keheningan, dan Sudut Pandang Perempuan
Nama Naoko Yamada otomatis membentuk ekspektasi: ia sering dikenal mampu menonjolkan emosi lewat gestur kecil, ritme tenang, dan “ruang sunyi” yang berbicara banyak—seperti yang banyak penonton rasakan di A Silent Voice dan K-On!.
Jika pendekatan itu dibawa ke cerita sejarah-politik:
- drama karakter bisa terasa lebih manusiawi, tidak hanya “strategi”
- keputusan politik akan punya bobot emosional, bukan sekadar logika
- hubungan antar tokoh perempuan dapat ditulis dengan lapisan yang lebih halus
Science SARU: Visual Berani untuk Kisah yang Berat
Sebagai studio, Science SARU sering dikaitkan dengan pendekatan visual yang ekspresif dan dinamis. Untuk cerita sejarah seperti ini, gaya itu bisa jadi keuntungan:
- tidak terjebak “realisme kaku”
- bisa menonjolkan suasana (debu padang, langit malam stepa, ruang istana)
- dapat menekankan ketegangan batin lewat komposisi dan gerak
Ketika cerita politik bertemu gaya visual yang kuat, hasilnya bisa terasa seperti “drama sejarah sinematik” versi anime.
Kenapa Wajib Masuk Watchlist?
Kalau kamu mencari anime yang:
- latarnya bukan Jepang modern atau fantasi generik
- berani mengangkat sejarah dunia non-Jepang dengan konflik manusia yang kompleks
- menempatkan perempuan sebagai subjek yang aktif, bukan tempelan
- menggabungkan politik, ilmu, dan emosi
…maka ini judul yang pantas dipantau dari sekarang.
Biar update kamu rapi menjelang rilis, pantau 4 hal ini: 1) tanggal tayang final & platform siarnya 2) trailer berikutnya (biasanya mengungkap tone dan ritme cerita) 3) info detail karakter (pengucapan nama, istilah, dan konteks) 4) detail adaptasi: seberapa dekat dengan manga (pace & arc yang diambil)
- A Witch in Mongolia – Official Site (News & ONAIR)
- Jaadugar: A Witch in Mongolia – WORKS (Science SARU)
- A Witch’s Life in Mongol / Tenmaku no Jādūgaru (ringkasan manga & info adaptasi)
- Jaadugar: A Witch in Mongolia akan tayang Juli 2026 (liputan Indonesia)
- Jaadugar: A Witch in Mongolia anime in the works at Science SARU (liputan tambahan)
- Manga Review: A Witch’s Life in Mongol Vol. 1 (konteks pendidikan/era ilmu)